Pada 20 Mei 1908, organisasi Budi Utomo didirikan oleh sekelompok pemuda cendekia. Bukan partai politik, bukan pula gerakan bersenjata.
Namun dari organisasi inilah api kesadaran nasional mulai dinyalakan. Cita-cita mereka sederhana namun mendalam: memajukan pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan demi mencerdaskan bangsa. Di tengah keterjajahan, mereka percaya bahwa kebangkitan bangsa harus dimulai dari pikiran dan pendidikan.
Kita mengenang Budi Utomo sebagai tonggak awal Kebangkitan Nasional. Namun lebih dari itu, yang mereka perjuangkan sejatinya adalah pendidikan yang memanusiakan manusia.
Pendidikan yang tidak sekadar mencetak tenaga kerja, tetapi membangun manusia seutuhnya—merdeka dalam berpikir, berbudaya dalam bertindak, dan memiliki kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang meyakini bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu, melainkan sarana untuk memerdekakan manusia lahir dan batin. Sementara HOS Cokroaminoto mengajarkan bahwa pendidikan harus melahirkan pemimpin sejati yang berilmu, berbudi pekerti, dan mampu membawa perubahan bagi masyarakat.
Di tengah perkembangan zaman saat ini, semangat tersebut kerap terasa memudar. Dunia pendidikan sering terjebak pada rutinitas administratif, sementara peserta didik diburu target nilai dan peringkat. Karena itu, ruh pendidikan sebagai upaya membangun karakter, mengasah empati, dan menumbuhkan akal budi perlu kembali diperkuat.
Konsep tersebut kini hadir dalam berbagai model pendidikan karakter, salah satunya yang dikembangkan oleh LDII melalui pendekatan pendidikan Profesional Religius. Model ini mengintegrasikan nilai religius, keterampilan hidup, dan kecakapan akademik secara holistik.
Tujuannya bukan hanya mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga jujur, mandiri, dan berakhlak mulia.
Dalam konsep 29 Karakter Luhur yang dikembangkan LDII, profesionalitas tidak pernah dipisahkan dari spiritualitas. Nilai-nilai seperti jujur, amanah, kerja keras (mujhid), hemat (muzhid), hingga prinsip kerja “bener, kurup, janji” menjadi bagian penting dalam proses pembinaan generasi muda. Konsep ini selaras dengan pemikiran para tokoh bangsa yang menempatkan karakter sebagai fondasi utama pendidikan.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat persatuan, semangat gotong royong, serta pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Dalam semangat tersebut, LDII terus mengembangkan konsep “29 Karakter Luhur” sebagai upaya membentuk generasi muda yang profesional religius dan berakhlak mulia.
Ketua DPD LDII Kabupaten Kebumen, H. Gunardi, menyampaikan bahwa kebangkitan bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi maupun ekonomi, tetapi juga dari kualitas moral dan karakter generasi penerus. Karena itu, pembinaan karakter menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang harmonis, mandiri, dan berdaya saing.
Menurutnya, konsep 29 Karakter Luhur menitikberatkan pada pembentukan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari, seperti jujur, amanah, disiplin, rukun, kompak, hemat, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Nilai-nilai tersebut diterapkan melalui pembinaan generasi muda, pendidikan keagamaan, hingga berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Ia menambahkan, Hari Kebangkitan Nasional harus dimaknai sebagai momentum untuk membangkitkan semangat membangun bangsa mulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan masyarakat. Generasi muda diharapkan tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki moralitas dan etika yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman.
Selain fokus pada pembangunan karakter, LDII juga terus mendorong penguatan delapan klaster pengabdian untuk bangsa, meliputi bidang pendidikan, kebangsaan, kesehatan herbal, ketahanan pangan dan lingkungan, ekonomi syariah, teknologi digital, energi baru terbarukan, hingga kebencanaan.
Melalui semangat Hari Kebangkitan Nasional, LDII berharap konsep 29 Karakter Luhur dapat menjadi kontribusi nyata dalam mencetak generasi Indonesia yang tangguh, berintegritas, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

